Underconstruction Blog

ACEH UNITED Mewujudkan Mimpi Membangun Industri Sepakbola di ACEH

Sabtu, 22 Januari 2011

Transkrip Wawancara GOAL.com Dengan Presiden FC Barcelona Joan Laporta (Bagian Pertama)

Inilah naskah lengkap bagian pertama dari wawancara GOAL.com dengan presiden Barcelona... 

Gianluigi Longinotti-Buitoni, Pendiri & Presiden GOAL.com: Kami berada di Camp Nou, markas salah satu klub terbesar dalam sejarah sepakbola: FC Barcelona. Karakter Barcelona paling mengesankan adalah bukan hanya klub ini meraih sukses terbesar dalam sejarah, setelah menjuarai enam gelar dalam musim yang sama dengan penampilan individual serta kolektif mereka. Tetapi apa yang paling menandai Barcelona adalah cara mereka meraihnya. Pertama-tama, sukses olahraga Barcelona berangkat dari pengembangan mental juara dari program akar rumput sendiri, seperti Lionel Messi, Xavi Hernandez, Andres Iniesta…  

Kedua, ketika kebanyakan klub sedang mengalami kesulitan finansial, Barcelona menjadi klub terbesar kedua dalam pendapatan tahunan – yakni sebesar €365,9 juta berdasarkan penjualan dalam lima tahun terakhir, sukses yang sejalan dengan klub-klub top lain di dunia.

Gianluigi Longinotti-Buitoni [GLB]: Tuan Presiden, di bawah kepemimpinan Anda Barcelona meraih sukses terus menerus. Menurut Anda, apakah keputusan terbaik yang Anda buat?  

Joan Laporta [JL]: Keputusan terbaik kami, karena kami berada dalam dewan administrasi yang berada di bawah kewenangan saya, dan kami mengambil keputusan secara kolektif kapanpun sebuah kebijakan sepakbola harus ditempuh, adalah disokong oleh sekretaris teknik dan orang-orang yang memberikan nasihat positif. Tapi keputusan terbaik yang kami buat sepanjang tahun ini menurut saya adalah menunjuk Txiki Begiristain sebagai sekretaris teknik. Dia orang yang secara konsisten menyajikan proposal yang sangat kompetitif. Keputusan hebat juga adalah menunjuk Frank Rijkaard sebagai pelatih, begitu juga dengan penunjukan Josep Guardiola, Keputusan ini adalah keputusan luar biasa, juga pelik karena tidak didukung orang banyak atau juga memiliki kerumitan prosedur sebuah penunjukan. Namun, kami berhasil membuktikan keberanian serta gagasan jernih untuk hal yang kami inginkan. Selain itu, keputusan terbaik olahraga kami adalah mengembangkan filosofi sepakbola "Cruyffian", yang mengubah Barcelona menjadi klub dengan keistimewaan, klub yang memilih menjadi yang terbaik ketimbang yang pertama. Biasanya, jika Anda yang terbaik, Anda sekaligus menjadi yang pertama. Tapi, inilah cara kami mencintai sepakbola dan filosofi ini menjadi keputusan terbesar. Saat membahas penerapan filosofi ini, sebagai konsekuensinya, datanglah Txiki, datanglah Rijkaard, datanglah Guardiola... Kuncinya adalah filosofi sepakbola yang kami pilih untuk diterapkan, filosofi "Cruyffian". 

Dari sudut pandang non-sepakbola, keputusan terbaik adalah membangun Yayasan Barca dan membentuk persekutuan dengan UNICEF. Ini adalah keputusan non-olahraga yang paling penting dalam tujuh tahun kepemimpinan saya, yang akan berakhir 30 Juni nanti. Buat saya, keputusan terbaik adalah dua hal: setia kepada gagasan pemahaman kami tentang sepakbola, yaitu filosofi "Cruyffian"; serta keputusan menjalin hubungan dengan UNICEF, yang membuat kami memiliki kesempatan untuk membantu banyak anak yang membutuhkan. Keputusan ini dijalankan sesuai dengan citra serta nilai-nilai Barca dan ini menurut saya sangat penting. 

GLB: Lalu, apakah keputusan terburuk?

JL: Secara umum, saya lebih senang membahas hal-bal baik. Saya akui saja, kami melakukan keputusan buruk. Apa yang saya nilai adalah keinginan kami membenahi kesalahan dan menatap ke depan. Saat ini, saya mencoba memikirkan keputusan terburuk dan saya tak bisa mengingatnya! Tahu apa yang terjadi? Tentu saja kita membuat kesalahan dan saya yang pertama melakukannya, tapi saya mencoba melupakannya. Saya rasa kami harus belajar dari kesalahan itu, tapi jangan mengingatnya. Anda harus belajar dari kesalahan itu, mengoreksinya, dan menatap ke depan. Keputusan yang salah? Saya rasa secara umum setiap langkah yang kami lakukan memiliki arti dan dengan pikiran yang tenang, saya tahu segala keputusan kami jalankan dengan niat positif. Keputusan yang tidak berjalan lancar bisa digunakan sebagai bahan pelajaran, jadi saya rasa itu tidak bisa dinilai dengan buruk.

GLB: Saya ingin membagi pertanyaan jadi tiga bagian: olahraga, bisnis, dan sosial. Untuk bidang olahraga, apa tiga hal menurut Anda yang membantu klub meraih sukses sebesar ini?

JL: Saya sudah menjawabnya. Pertama, setia kepada gagasan kami tentang sepakbola, yakni filosofi "Cruyffian", merupakan cara mendominasi pertandingan sejak awal, mengendalikan bola, memainkan umpan-umpan pendek, menyerang, mencoba mencetak lebih banyak gol daripada lawan, serta penuh rendah hati. Cara ini menuntut pemain tampil baik dan menjadi yang terbaik. Saya rasa inilah yang paling penting, ini kuncinya. Contohnya, beberapa keputusan sudah ditempuh, seperti membentuk La Masia. La Masia adalah istilah yang kami gunakan dalam menjalankan program akar rumput Barca. Kami juga banyak berinvestasi di sana, kami bekerja keras, kami mengerahkan tenaga, dan juga kecerdasan, kemampuan, dan teknik… Konsekuensinya sekarang, di tim inti, kami memiliki 50 persen pemain dari didikan sendiri, yang tumbuh dan dikembangkan sebagai pemain dan dibentuk sebagai seorang pria yang paham perannya dalam klub, simbol yang diwakilinya, dan kebanggaan menjadi bagian dari Barca.  

Hal ini diterjemahkan ke dalam tim inti dan sekarang membuat kami memiliki identitas sepakbola sendiri, hanya yang berdasarkan "Cruyffisme", yang juga dikembangkan Frank Rijkaard saat masih melatih, dan juga saat ini masih dikembangkan oleh Pep Guardiola. Keduanya sudah paham filosofi tersebut. Terutama Pep, karena dia tahu seluk beluk klub ini, pengetahuan soal La Masia, dan bagaimana rasanya menjadi bagian dari Barca. Kemudian pemain seperti Messi, Iniesta, Xavi, Puyol, Pique, Busquets, begitu juga dengan Bojan, Pedro, Victor Valdes… Mereka semua memiliki darah Barca yang mengalir di dalam pembuluh nadi masing-masing, mereka mencintai klub sepenuh hati, mereka banyak menderita, mereka banyak berlatih di Barca untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Ini sungguh indah dan inilah kuncinya.

Menjadi lebih dari sekadar klub juga penting, "mes que un club" atau lebih dari sekadar klub bukan sekadar slogan, melainkan ekspresi identitas kami, ekspresi identitas budaya kami, budaya Katalan kami, ekspresi fokus internasional kami bahwa Barca adalah klub global. Ekspresi ini merupakan bentuk solidaritas yang dikembangkan melalui Yayasan. Jadi menjadi lebih dari sekadar klub, filosofi "Cruyffian", dan La Masia adalah kunci sukses kami.

Jumat, 21 Januari 2011

Transkrip Wawancara GOAL.com Dengan Presiden FC Barcelona Joan Laporta (Bagian Kedua)

Inilah naskah lengkap bagian kedua dari wawancara GOAL.com dengan presiden Barcelona...

Gianluigi Longinotti-Buitoni, Pendiri & Presiden GOAL.com (GLB): Seringkali presiden klub sepakbola menjadi orang yang memegang peran penting sukses sebuah tim. Mereka adalah orang yang memilih pelatih, yang menyetujui pembelian pemain, yang melihat bentuk model bisnis dan berperan terhadap tanggung jawab sosial sebuah klub. Presiden yang pantas menjadi contoh sukses yang memegang peran ini adalah Joan Laporta, presiden Barcelona.

Biasanya kekuatan personal bisa melemahkan kekuatan klub. Di Barcelona setidaknya ada tiga orang yang memegang peranan penting, Anda, Guardiola dan Messi. Bagaimana ketiganya ini bisa terus eksis?

Joan Laporta (JL): Saya tidak menilai diri saya memiliki level yang sama dengan dua orang lainnya, seperti Messi dan Guardiola. Alasan utama dari sukses Barca adalah pemain dan Messi yang memiliki kemampuan yang dibutuhkan, perwakilan klub dan di atas itu semua adalah kepemimpinan. Dia sudah menjadi pemain terbaik di dunia. Pep bagi saya adalah pelatih terbaik di dunia untuk Barca. Dia adalah karakter dengan kapabilitas yang penting, dan memimpin tim dengan cara yang luar biasa. Dia memiliki pengetahuan yang cukup mengenai sepakbola. Dia tahu klub dan juga cerita indah yang dibangun di sekelilingnya.

Kolega saya dan saya sendiri juga memiliki andil dalam memberi kontribusi untuk membangun cerita ini, karena kami sebelumnya membuat cerita indah bersama, seperti halnya ketika Frank Rijkaard di Barcelona, yang memenangi dua gelar Liga dan satu Liga Champions. Dengan pemain, saya rasa kami sudah menggunakan pendekatan yang sangat humanis, yang saya rasa sangat penting memperlakukan pemain sebagai sosok manusia. Sejumlah pemain memiliki ketenaran, uang... apa pun yang mereka inginkan. Tapi di atas itu seua mereka adalah manusia dan saya pikir penting sekali memperlakukan mereka sebagai seorang individual, manusia. Dan kami sudah membantu untuk membangun sejarah dari Pep, cerita yang indah: dia lahir di sebuah desa di Catalonia, bermain di program dasar FC Barcelona, menjadi pengumpul bola, dan kemudian dia bermain sebagai pemain tim utama dengan Cruyff, setelahnya dia memenangi liga, Liga Champions dan bermain empat musim penuh dengan Cruyff dan menjadi satu dari juara pertama untuk Barca, dan kemudian dia memenangi sejumlah kompetisi di sepanjang karirnya di klub ini, kemudian dia masuk ke dunia pelatihan dan kami menariknya sebagai pelatih Barca B - yang kini disebut Barca Athletic, dia kembali ke tim utama sebagai pelatih kepala dan meraih hasil terbaik di sejarah Barcelona, jadi kami sangat membantunya membangun sejarah yang indah.

Karakter seperti ini yang diperlukan, Messi, Guardiola, Saya sendiri, sebagai presiden memperlakukan secara manusiawi sangatlah penting dan Messi, yang memang dari sananya sudah menjadi pemain terbaik dunia dan orang paling rendah hati, dan selalu demikian sejak dia bermain di La Masia, di tim junior dan juga rendah hati dalam debutnya bersama klub dan tetap demikian setelah dinobatkan sebagai pemenang Ballon d'Or dan Pemain Terbaik FIFA. Hal seperti ini hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki karakter hebat. Dan dalam kasus Pep, dia adalah orang yang memiliki selera humor tinggi dan kami sangat bersahabat, alami dan memiliki hubungan yang baik dengannya. Kami membaur satu sama lain dengan sangat baik pada tiga sosok personal ini. Juga ada orang lain yang lebih penting dari saya, Txiki Begiristain, CEO, direktur sepakbola, Joan Olivie, Raul Sanllehi, Manuel Estiarte, Marta Segu di yayasan, dan kolega-kolega saya di anggota dewan.

Kami semua telah menciptakan sebuah lingkungan organisasi yang serius dan profesional, yang selalu melihat adanya inovasi. Kami tak berhenti membuat kejutan dan memberi penyegaran. Mungkin karena kedekatan generasi kami: Frank Rijkaard memiliki usia yang sama dengan saya, Messi seperti adik saya, ada hubungan yang luas dengan Pep di berbagai hal dalam melihat kehidupan, sepakbola... Kami sudah belajar untuk hidup berdampingan. Berjalan bersama sangatlah penting dan selalu menjadi kunci.

GLB: Salah satu tantangan terberat dalam industri sepakbola adalah menetapkan model bisnis yang stabil.

JL: Saya sangat setuju.

GLB: Bagaimana Barcelona bisa melakukannya?

 
JL: Dengan usaha keras, memberikan segenap kemampuan, pengetahuan, dalam beberapa cara, menempatkan orang yang tepat di posisinya sesuai dan di atas itu semua, mengetahui model itu. Seperti yang Anda bilang, tak ada sekolah bisnis yang mengajarkan Anda untuk mengendalikan sebuah klub sepakbola. Ketika kami datang ke sini, kami sadar kami harus membangun sebuah model. Klub berada di situasi yang sulit, memiliki 123 juta dalam hal pendapatan, tapi kehilangan 164 dan di tahun 2003 kami mendepositokan ini dan sekarang di tahun 2010 kami telah mendepositokan lebih dari 410 juta euro, kami sudah mengakumulasikan pendapatan tiap tahunnya dan menurunkan keuntungan. Mengapa? Karena model yang kami bangun merupakan model profesional, inovatif, bertanggung jawab dan akuntabel....Kami adalah Katalan, kami tak pernah lebih dari yang kami kami miliki, hal itu sangatlah penting. Di sisi lain, begitulah rasio dari sebuah operasi. Kami selalu memikirkan beban gaji, baik gaji pemain, tak boleh lebih besar dari 55 persen pendapatan kami. Rasio seperti ini membuat kami memiliki waktu ekstra yang penting. Kami bisa mengurangi utang bank dari klub, dan di bulan Oktober 2008, kami bisa menguranginya menjadi nol, hal ini sangat penting.

Kami memegang pentuh kendali utang untuk pendapatan yang kami terima. Kami telah meletakkan nilai dalam warisan klub. Sekarang Barca sanggup membayar utangnya dan jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. Kami sudah memegang penuh operasional Sports City, yang merupakan jantung La Masia, yang menjadi tempat tim pertama berlatih, tapi juga menjadi program latihan dasar. Kami memiliki proyek di Miniestadi yang rencananya akan kami kembangkan dan kami sudah mencapai kesepakatan dengan dewan kota untuk pengembangan dari proyek yang membolehkan kami memiliki Palau yang baru, dan bisa mendesain ulang stadion, Nou Camp. Kami juga sudah memberikan nilai di sejumlah tanah yang kami punya di Can Rigalt, lewat aksi yang dilakukan Dewan Administrasi dan otoritas dan perusahaan listrik yang terlibat di area ini, kami telah memberikan nilai di semua ini, dan dari sebelumnya hanya berharga dua juta ketika kami tiba, sekarang berubah menjadi 110 juta euro.

Juga, tanah tua yang kami miliki saat masih di Montall, yang sebelumnya daerah basah yang tidak ada harganya, terima kasih sebelumnya atas Viladecans, sebuah desa yang dekat dengan bandara Barcelona yang menghadap ke laut, mulai mempertimbangkan Barca, ketika kami datang untuk bernegosiasi dengan dewan kota sehingga Barca bisa menjadi operator di daerah itu. Kami menjadikan tanah itu menjadi bernilai dan sekarang Barca Park akan dibangun di daerah itu, taman yang akan ditiru di seluruh penjuru dunia, jadi kami punya proposal untuk membangun Barca Park di Dubai, Miami, Maroko.... Maksud saya, model ini sudah bekerja dan dibangun dari tanggung jawab, dari pengetahuan, dari ilusi, dari keinginan untuk beinovasi dan di atas itu semua, saya pikir sangat banyak kepintaran diletakkan di semua ini. Tidaklah mudah menjalankan klub sepakbola dan hari ini Barcelona adalah klub yang sehat, baik secara finansial mau pun ekonomi, yang berpenghasilan melebihi 410 juta euro, yang memiliki utang yang besarnya hanya 25 persen dari pendapatan klub, sesuatu yang sangat bisa ditangani karena kami memiliki kepercayaan diri pada institusi keuangan yang membolehkan kami memegang kendali.

Terlebih lagi, klub ini punya warisan yang solid. Saya pikir bisa sangat mudah dipahami dan model ini sudah bekerja karena orang-orang yang tepat. Organisasi menjadi lebih efisien dan produktifitas tiap karyawan lebih tinggi dan terus lebih tinggi, jadi saya juga meyakini klub telah mengetahui karyawan sudah terikat dengan institusi, yang mana menurut saya juga menjadi hal yang penting, terutama terkait masalah humanisasi. Saya pikir hal ini sangat penting semuanya terkait dengan entitas, termasuk partner. Kami datang dengan 105,000 anggota dan hari ini kami memiliki 165,000 anggota dan kami adalah klub dengan kelompok fans terbanyak di dunia, kami punya jutaan penggemar di dunia. Bagaimana semua ini bekerja? Karena kami sudah membangun model yang sudah dikembangkan dengan kejujuran dan kehormatan lewat ide, "Lebih dari sebuah klub" di dunia, dan karena hal itu sangatlah penting klub dalam kondisi sehat, tapi juga karena lebih banyak Catalanist dari sebelumnya, juga menjadi klub yang lebih dari internasional, dan juga menjadi Barca yang lebih baik lagi dan ini semua berawal dari sebuah kehormatan.

Sepak Bola Modern Itu Bisnis

http://fans.bolanews.com/c/showthread.php?t=4211

Disclaimer: Copas dari Milis



Ketika saya masih bekerja untuk program Planet Football RCTI, tahun 1995, saya mewawancarai Nirwan Bakrie di Hotel Hilton (sekarang Sultan). Pertanyaannya seperti ini : Anda bercermin dari sosok Silvio Berlusconi, dalam membangun sepak bola dan bisnis Anda ya? Demikian kira-kira saya tanya, mengingat saat itu sosok NDB, panggilan akrabnya di lingkungan sepak bola, melakukan banyak terobosan kreatif.

Dengan senyum kecilnya, Nirwan menjawab, “Bisa aje elu. Intinya gini, gua bangun bola perlu banyak hal, dan wajar kalau bisa mirip seperti Silvio, tapi gua nggak berpolitik seperti Silvio,” tegasnya. Dari dekade para sosok-sosok penggila dan hobi bola, tapi memiliki kerajaan bisnis dari pendahulu-pendulunya, hanya menyisakan satu orang, yaitu Nirwan Bakrie, sedangkan yang lainnya terkubur habis-habis.

Bedanya, memang lumayan antara Nirwan dan Silvio. Jika Silvio memulai bisnisnya dari seorang advertising, dan kemudian memiliki banyak media, seperti televisi Telemilano, dan kemudian merambah punya RAI, televisi Italia secara monopoli. Sebagai pebisnis yang lihai, Silvio juga membuka jaringan telivisi kabel, seperti Canale 5, dan banyak misnis media cetak, jadilah bangunan holdingnya media grup. Termasuk didalamnya, majalah bergengsi Forbes pun dijadikan alat propaganda membangun image-nya di bidang politik. Dan, buntunya, lahirlah partai baru bernama Forza Italy.

Dari konsep bisnis raksasa yang dibangun enterpreuner Silvio Berlusconi, melangkahkan kakinya sebagai perdana menteri Italia dua kali hingga saat ini, serta beberapa kali menjadi menteri Tenaga Kerja dan menteri Kesehatan pun pernah dijabat. Tidak sampai di situ, klub sehebat AC Milan pun mampu dibeli dalam menjaga stabilitas bisnisnya. Mungkin, karena apes akibat sudah mampu memiliki segalanya (membeli kekuasaan dan membeli duniawi), Silvio sempat kena getahnya, dilempar sepatu dengan merontokkan giginya, hingga harus dirawat sebulan, walaupun posisinya sebagai perdana menteri Italia saat ini.

Sedangkan, Nirwan Dermawan Bakrie adalah salah satu generasi kedua dari keluarga Achmad Bakrie, pengusaha lokal asal Lampung, yang memiliki bendera Kelompok Usaha Bakrie Grup. Sebagai anak ketiga, setelah Aburizal ‘Ical’ Bakrie dan Roosmania ‘Odi’ Bakrie, Nirwan Bakrie menghabiskan masa kecilnya di Jakarta, dan kemudian melanjutkan studinya di Amerika, hingga mendapatkan gelar MBA. Tahun 1985, Nirwan dicambangi Rahim Sukasah dan Bertje Matulapelwa agar mau membangun klub baru, akibat semua pemain UMS’80 dibubarkan oleh William Suryajaya, pemilik Astra Grup. Dan, sepertinya Nirwan sangat tertarik, sehingga lahirlah Pelita Jaya Jakarta. Setelah membangun klub baru, Nirwan juga sangat serius membangun homebase. Maka, dibangunlah sistem kontrak bangun 20 tahun dengan pemda Jakarta Selatan, untuk membangun Stadion Sanggraha Lebak Bulus. Juga membangun komplek atlet Pelita Jaya, di Sawangan – Bogor, untuk semua atlet binaan Pelita Jaya grup, seperti bulutangkis, tenis, sepak bola dan basket.

Nirwan Bakrie, sebagai pengendali grup Bakrie, tidak hanya berhenti sampai di situ. Dalam membangun bisnisnya, Nirwan mendapat tawaran dari Agung Laksono, pemilik ANTV untuk mengambilalih televisi swasta tersebut. Maka, tahun 1993, Nirwan sudah menguasai ANTV sepenuhnya.

Dalam bisnis media, Nirwan juga mendapat partner dari M. Nigara (mantan wartawan Bola), untuk membangun media olahraga mingguan, yaitu Media GO (kini jadi harian dengan nama GoSports). Nirwan Bakrie sangat setuju, ketika tahun 1994, saat launching tabloid GO tersebut mendatangkan klub elit Italia, Sampdoria dan AC Milan. Saat itu, Nirwan Bakrie sudah memasuki organisasi PSSI, di mana pertama kalinya Nirwan ditunjuk menjadi manajer tim PSSI yang dipersiapkan ke Pra Piala Dunia 1988-89, juga manajer tim PSSI Merdeka Games 1989, di era kemimpinan Kardono. Tahun 1992-3, Nirwan sudah duduk dalam kepengurusan PSSI, sebagai ketua III - PSSI, dengan melahirkan PSSI Primavera dan Baretti.

Masih belum puas dalam merambah media, Nirwan juga membeli beberapa media, Nusra (Bali), Sinar Pagi (Jakarta), dan Berita Buana (Jakarta) yang dipindah dari harian pagi menjadi harian sore. Juga menginvestasi program RRI Program 2. Sementara itu, abangnya Aburizal Bakrie juga memelihara Koran nasional Pelita.

Sementara bisnis Bakrie Grup sepertinya juga semakin berkibar, sehingga bisnisnya mampu merambah ke batubara, minyak, kontruksi, jalan tol, asuransi dan bank. Hanya saja, saat membangun dunia perbankan, dengan membeli Bank Nusa Nusantara, Nirwan Bakrie terimbas kasus likuiditas BLBI tahun 1997, bersamaan dengan runtuhnya regim Soeharto.

Dari sinilah, sepertinya Nirwan Bakrie alergi melanjutkan pembangunan sepakbola dan medianya. Imbasnya, Pelita Jaya Jakarta diberikan pengelolaannya oleh Nurdin Halid. Harian Nusra (kini Nusa) diberikan ke teman-temannya. Sedangkan Sinar Pagi dan Berita Buana dikubur habis-habis nasibnya. Bahkan, sejak berhenti kompetisi akibat adanya kerusuhan nasional, Pelita Jaya sepertinya menjadi muzafir, pindah-pindah homabase, dari Solo, ke Cilegon,
kemudian pindah ke Purwakarta, dan sekarang bernaung di Kerawang – Jawa Barat.

Namun, kian membaiknya Grup Bakrie, dalam tahun 2008 Nirwan Bakrie membeli Lativi milik Abdul Latief, dan menjadikan televisi swasta tersebut berubah jubahnya menjadi TvOne. Praktis, saat ini, Nirwan memiliki dua televisi, dan juga menambah ada portal online, Viva News.

Di sepak bola, sejak Nurdin Halid bercokol di PSSI tahun 2002, Nirwan Bakrie sepertinya juga semakin terlibat banyak dalam membangun manajemen PSSI, dengan posisi sebagai Wakil Ketua PSSI, serta ikut membidani Badan Liga Indonesia, menjadi perseroan terbatas, sebagai badan usaha bisnis di bawah naungan PSSI (yayasan). Artinya, sepak terjang Nirwan, memang sangat panjang dalam ikut serta mewarnai dunia sepak bola, dari tahun 1985 hingga saat ini.

Dulu Sifatnya Hobi Bandingkan, dengan pengusaha-pengusaha sukses sebelum jaman Nirwan Bakrie, yang juga ikut andil mendirikan Liga Utama Sepak Bola (Galatama), di jaman kepemimpinan Ali Sadikin. Mereka-mereka itu, lebih dominan menjadi penggila bola yang berhobi membangun klub, tanpa berorientasi bisnis.

Sebetulnya, sebelum ada Galatama, tahun 1968 ada penggila bola asal Medan, TD Pardede yang membangun klub barunya dengan nama Pardedetex. Nyaris semua pemain hebat di jaman itu dijadikan satu tim besar di Medan, seperti Sucipto Suntoro, Abdul Kadir, Jacob Sihasaleh, Sinyo Aliandu, Ronny Pasla. Namun, saat bergabung sebagai anggota Galatama, TD Pardede sepertinya frustasi melihat cara-cara kompetisi sepak bola nasional, sudah dirasuki virus suap menyuap. Maka, TD Pardede mengundurkan diri, dan digantikan oleh anaknya, Johnny Pardede. Hanya saja, bapaknya juga masih nggak kuat melihat kompetisi semakin membabi buta main kotornya, akhirnya Pardedetex dibubarkan.

Di Jakarta, juga membanjir pengusaha-pengusaha yang berhobi membentuk tim, yang sifatnya lebih kekeluargaan ketimbang membangun bisnis bolanya. Benny Mulyono, pemilik pabrik cat terbesar jaman itu, Warna Agung, adalah klub elit yang pertama kalinya menjuarai Galatama tahun 1979. Dihuni oleh pemain-pemain nasional, seperti Ronny Pattinasarany, Rully Nerre, Robby Binus, Timo Kapisa, Endang Tirtana, Tinus Haipon, dan terakhir sebelum membubarkan diri, masih menyisakan Widodo C Putra. Namun, Benny Mulyono sepertinya juga frustasi melihat cara-cara kompetisi yang lebih dominan main suap menyuap (di jaman itu yang disuap selalu lebih banyak pemain).

Masih di Jakarta, ada klub Tunas Inti, yang dibangun lewat hobinya dari pengusaha Benniardi, pemilik PT Tempo Tbk (pabrik obat-obatan), juga akhirnya terlindas oleh gaya permaianan suap menyuap, walaupun saat itu dihuni oleh banyak pemain besar, diantaranya Ronny Pattinasarany, Rusdin Lacanda dan pemain asingnya Issac Moses (pemain asal Belanda berdarah Ambon). Saking gilanya Benniardi, tidak hanya membangun Tunas Inti. Namun juga mambangun klub Galatama, Tempo Utama (dihuni Wahyu Tanoto, Paulus Rogger). Walaupun, di masa jayanya, Tunas Inti dan Tempo Utama juga gulung tikar, bersamaan bangkrutnya bisnis PT Tempo (saat itu disinyalir, Benniardi selain pengusaha yang hobinya judi bola).

Di Surabaya, ada A. Wenas, pengusaha papan atas asal Surabaya, yang memiliki rumah judi terbesar di kawasan Indonesia Timur, juga membangun klub bernama Niac Mitra. Nyaris, semua pemain Persebaya Surabaya, saat juara Suratin Cup 1977 direkrut, seperti Hamid dan Riono Asnan, Rudi Keltjes, Rae Bawa, Joko Malis dan Syamsul Arifin. Juga pemain PSM Makassar, Yusuf Malle dan Dullah Rachim juga ditransfer. Niac Mitra saat itu, tidak hanya bintang Persebaya yang direkrut, tapi juga dua pemain asing asal Singapura, Fandi Achmad (kini
pelatih Pelita Jaya Karawang) dan David Lee. Namun, karena tidak memiliki wawasan berbisnis bola, akhirnya Wenas juga bangkrut membangun Niac Mitra.

Dari Jawa Tengah, nama Arseto Solo juga menjadi salah satu tim elit. Klub milik Sigit Harjoyudanto itu, juga dihuni oleh banyak pemain-pemain bagus, seperti Ricky Yacobi, Nasrul Kotto, Eduard Tjong. Saat itu, dipastikan dana yang dikucurkan anak mendiang Presiden Soeharto itu, sepertinya tak ada limitnya. Bahkan, Stadion Manahan Solo pun ikut dibangun secara megah.

Namun, gara-gara sistem pembinaan yang amburadul, akibat gaya membina PSSI Primavera, yang dengan terang-terangan mencaplok pemain binaan klub Arseto, akhirnya berbuntut pembubaran klub elit Solo tersebut. Saat itu, Indriyanto Nugroho, adalah pemain asli Solo yang dibina Arseto Solo. Saat memperkuat Haornas Jateng, Indriyanto masuk dalam talenta skuad Primavera yang disekolahin ke Italia. Namun, setelah pulang ke Indonesia, ujug-ujug Indriyanto sudah diakui milik Pelita Jaya. Ismed Tahir, yang menjadi tangan kanan Sigit Harjoyudanto, sepertinya murka, dan memberi sikap yang sangat miris, yaitu memberi nilai transfer Indriyanto Nugroho hanya sebesar Rp 100 (baca seratus perak) ke Pelita Jaya yang dinilai sangat tidak etis dalam merekrut pemain. Dan, setelah itu, Arseto tahun 1995 membubarkan diri.

Dari ujung timur Indonesia, juga ada klub elit saat itu, namanya Makassar Utama, milik Yusuf Kalla (mantan wakil presiden). Saat itu, Makassar Utama adalah satu klub yang lumayan disegani. Ada nama-nama Mustafa Umarella, Hengky Siegers, Alimudin Usman. Namun, karena terkait banyak permainan suap menyuap, juga hasilnya Makassar Utama dibubarkan.

Di luar nama-nama klub di atas, sebetulnya hampei ‘sami mawon’ nasibnya, seperti klub-klub Jaka Utama (Yanita Utama/Krama Yudha Tiga Berlian), Mercu Buana (Medan Jaya), Lampung Putra, BBSA, Cahaya Kita, Angkasa, UMS’80, Perkasa Mataram, Sari Bumi Raya, BPD Jateng, Gajah Mungkur, Tidar Sakti, Caprina, Bintang Timur, Bima Kencana, Bali Yudha, Bima Kencana, BPD Jateng dan Pupuk Sriwijaya akhirnya semua terkubur.

Bahkan, klub raksasa di jaman itu, seperti Jayakarta yang dikelola FH Hutasoit, juga harus bangkrut, walaupun saat itu nyaris dihuni oleh begitu banyak pemain nasional, dari Sudarno, Iswadi Idris, Sofyan Hadi, Onyong Lisa, Anjas Asmara, Sutan Harhara dan Andi Lala. Begitupula Indonesia Muda milik Dimas Wahab, juga bubar di tengah jalan, setelah tersudut oleh kasus-kasus suap, padahal dihuni oleh Ronny Pasalah, Sueb Rizal, Junandi Abdullah, Dede Sulaiman dan Hadi Ismanto.

Sisi positif dari klub-klub Galatama yang pernah diikuti 41 klub di jaman itu, sudah benar dikelola oleh pihak swasta dan pribadi-pribadi yang memiliki usaha bisnis yang lumayan besar. Negatifnya, mereka para pengusaha di jaman itu sifatnya hanya hobi dan sekadar penggila bola (bisa jadi hanya ikut-ikutan), bukan bisnis sepak bola. Sebaliknya, di jaman sekarang, nyaris 90% dikelola bergaya majikan (pengusaha), tapi dananya dicubit dari APBD. Ini dipastikan tak pernah mungkin melakukan bisnis sepak bola sebagai industri.

Dulu, nama-nama klub sangat bagus dan lumayan sangar, ada Jayakarta, Warna Agung, Niac Mitra, Bandung Raya, Yanita Utama, Arema atau Mercu Buana. Sebaliknya, bandingkan, nama-nama tim yang ikut di Super Liga Indonesia, yang cenderung namanya dari singkatan, seperti Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, PSM Makassar, Persipura Jayapura atau Persib Bandung. Perlu saatnya merubah nama pada saat berubah menjadi perseroan terbatas (tapi holdingnya tetap Persija Jakarta, misalnya), tapi nama klub Jayakarta (misalkan).

Bisnis Investasi
Sebagai pencinta bola, saya mencoba mendeteksi semua sepak terjang dunia bola, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Intinya, memapaki sepak bola modern saat ini, semuanya serba barbau bisnis, dan semuanya dihitung dengan uang yang tidak kecil, dalam membangun investasinya.

Jika tidak paham betul dalam bisnis sepak bola, bisa-bisa semuanya ludes dan bangkrut. Klub se-raksasa Manchester United pun, walaupun memiliki income ratusan juta dolar, karena terkait dengan bisnis holding (sang pemiliknya), bisa jadi klub super elit Inggris ini, masih menyisakan banyak hutang. Mungkin, hanya Barcelona, yang dikelola secara unik (suporter), yang tak pernah berpikir masalah hutang, dan bahkan juga hanya mencari sponsor dari lembaga-lembaga sosial dunia, seperti Unicef (motifnya menyumbang, bukan dapat dana segar).

Di Indonesia, cepat atau lambat untuk pengelola bola, tidak bisa hanya minta disusui APBD seperti yang saat ini nyaris semua tim yang awalnya dari perserikatan masih menggunakan celah-celah anggaran dari pemerintah daerah (selain Arema Malang dan pelita Jaya). Jika hal tersebut tidak diberi rambu-rambu secara tegas, sepak bola nasional tetap akan terpuruk atau hanya ‘jalan ditempat’.

Oleh sebab itu, pengelola sepak bola yang mengikuti kompetisi di level Super Liga Indonesia, ataupun Divisi Utama, sudah harus memikirkan untung rugi dalam membangun sepak bolanya. Salah satu, investasi yang wajib dimiliki oleh setiap klub, adalah memiliki hak sepenuhnya mengelola infrastruktur, yang namanya stadion.

Stadion, bagi saya adalah modal super penting dalam menghasilkan uang cash dan fresh. Mengapa? Ya, karena dari hasil tiket penonton tersebut, setiap klub langsung bisa memutar investasi, bukan dari merchandising, sponsorship ataupun dari televisi. Oleh sebab itu, stadion sangat sakral bagi setiap klub yang ingin bisnis sepak bola. Tanpa, punya stadion yang dikelola sendiri oleh klub, maka jangan harap bisa melakukan bisnis dalam sepak bola.

Pemerintah daerah, baik gubernur/walikota ataupun bupati harus diberi instruksi dari pemerintah pusat (dalam hal ini presiden), bahwa setiap klub diberi kesempatan mengelola stadion yang sudah ada di kota-kota tersebut, dengan harga relatif murah atau gratis. Sehingga, setiap tim wajib mengelola sekaligus pemeliharaannya. Nanti, setelah memiliki income yang sudah stabil, baru diberi kesempatan melakukan bisnis sewa menyewa juga dalam batas-batas murah. Hingga, sampai mencapai kestabilan dalam membangun bisnisnya. Pihak pemerintah daerah hanya mengontrol sebagai penyeimbang, agar tidak kebablasan menjadi bagian dari kongkalikong atau korupsi.

Kalau SBY semakin serius, pemerintah daerah yaitu gubernur, walikota dan bupati hanya bisa menganggarkan alokasi APBD-nya hanya untuk sebanyak mungkin membangun infrastruktur stadion dan bandara modern. Dan, khusus untuk stadion langsung diberi kepercayaan setiap tim untuk mengelolanya dengan benar, termasuk pemeliharaannya. Kasih kesempatan setiap tim mengelola dengan bentuk kerjasama selama 10 tahun, dan sepuluh tahun berikutnya harus sudah menghasilkan bagi hasil dengan pemerintah daerah (misalnya).

Harusnya Menguntungkan
Taktik dan strategi setelah memiliki stadion yang dikelola sendiri. Maka, semuanya bisa dijadikan ladang uang. Salah satu taktik yang paling jitu, setiap tim harus memberi informasi kepada penggemar dan calon penggemarnya, bahwa tim yang dikelola itu adalah kumpulan para aktor dan para selebritis yang pantas ditonton seperti halnya penggemar musik nonton Slank, atau nonton Iwan Fals, Dewa ataupun grup band besar. Yaitu, harus membayar dengan nilai-nilai tertentu. Saran saya, minimal untuk nonton tim seperti Persebaya Surabaya, Persib Bandung, Persija Jakarta atau Arema Malang nilai Rp 50.000. Kalau perlu Badan Liga Indonesia, juga memberi standart bagi klub yang ikut kompetisi Indonesia Super League (ISL) dengan nilai tersebut. Sedangkan, penonton di Divisi Utama, minimal harus membeli tiket rata-rata sebesar Rp 30.000.

Jika, syarat-syarat tersebut sudah bisa disosialisasikan dan disyahkan sebagai standart tiket minimal setiap pertandingan. Maka, tugas pengelola/pelaku tim yang sudah investasi tersebut, harus tidak bisa kompromi kepada kelompok suporter ataupun fans club, bawah tidak ada harga
diskon, kecuali siap membeli tiket terusan 17 pertandingan home (jika peserta kompetisi Super Liga Indonesia – 18 klub), baru mendapat diskon yang tidak banyak (5 sampai 7,5%), kalau hanya membeli sekali nonton, ya harus bayar Rp 50 ribu, kelas I bisa dihargai Rp 100 ribu dan VIP dihargai Rp 250 ribu (ya harus nyaman).

Contohnya : Stadion Kanjuruhan, jika diberi kesempatan dikelola sendiri oleh Arema Malang, tanpa ikut campur pemerintah daerah (walaupun tanah dan bangunan itu milik pemda). Maka, jika kapasitas stadion Kanjuruhan itu bisa menampung 50 ribu penonton. Jika, rata-rata tiket termurah harganya Rp 50 ribu, maka income Arema Malang dalam setiap pertandingan mencapai Rp 2,5 miliar. Maka, kalau ada 17 kali pertandingan di kandang ‘Singo Edan’ ini, akan mendapatkan tiket penonton sebesar Rp 42.700.000.000 (empat puluh dua miliar, tujuh ratus juta rupiah). Kalau, dihitung targetnya hanya 50% saja dari target income yang didapat, maka Arema satu musim bisa meraih tiket penton sebesar Rp 21.350.000.000 (kurang lebih Rp 21 miliar).

Pemasukan riil yang langsung bisa menjadi nyata adalah merchandising. Saya sangat ngiler melihat outlet independent yang mengolola merchandising di kota Malang, dari semua asesoris yang memiliki icon-icon Arema Malang. Jika, manajereman Arema Malang diberi ilmu oleh Badan Liga Indonesia, maka pemasukan setiap musim Arema Malang bisa meraih mendapatan bersih sekitar Rp 5 miliar, dari kreatifitas kostum baru setiap musim saja (kostum home and away, pin, slayer, topi, mug).

Ada keuntungan yang tidak dimiliki oleh tim-tim lain di luar Arema Malang (bisa ditiru, dengan memaksimalkan perusahaan-perusahaan lokal oleh tim lainnya). Yaitu peran PT Bentoel yang merasa memiliki kota Malang sebagai homebase-nya. Walaupun saat ini, PT Bentoel tidak lagi ikut serta dalam kepemilikan Arema Malang, namun goodwill-nya, PT Bentoel masih ‘tutup mata’ menyiram Arema Malang sebesar Rp 7 miliar.

Kalau Arema Malang bisa memelihara manusia-manusia berjiwa marketing yang handal, maka tidak tertutup kemungkinan Arema Malang bisa mendapatkan sponsorship yang lebih besar ketimbang Bentoel (yang seolah-olah wajib menyumbang Arema Malang). Modal kompensasinya, adalah stadion Kanjuruhan dari semua sudut, serta punya suporter setia yang datang ke stadion sebanyak 50 ribu suporter. Ini sungguh asset yang super dasyat, dan pasti akan dilirik oleh banyak produk.

Awal musim ini, saya mencoba menawarkan diri bisa bertemu dengan manajer Persebaya, Saleh Mukadar di Jakarta. Saya punya klien - Flexi yang ingin bermain dan terlibat di sepak bola nasional. Nilainya memang tidak banyak, yaitu sebesar Rp 2 miliar. Bahkan, pihak manajemen marketing Flexi, sudah menujuk dan naksir berat dengan Persebaya Surabaya, karena memiliki suporter yang fanatik dan militan. Kalau bisa mampu tiga besar atau juara, nilai kontraknya akan bertambah, demikian saran saya kepada Flexi.

Hanya saja, waktu itu saya diberi peran, agar bisa cawe-cawe memberi saran, agar Persebaya Surabaya bisa menjadi salah satu kandidat musim ini. Dari pembicaraan saya dengan Saleh Mukadar tersebut, saya memberi saran kalau bisa bekerjasama dengan pihak sponsor Flexi, saya menyarankan agar tidak memilih pelatihnya Danurwindo. Alasan saya agar Persebaya Surabaya tidak memilih Danurwindo, menurut saya, karena Danur itu pelatih brilian yang tidak pernah bisa menterjemahkan ilmu-ilmunya kepada pemainnya, dan tidak pernah bisa menjadi teman bagi anak buahnya. Intinya, Danur itu pinter tapi kaku, jadi kalau memakai Danur harus ditandem oleh orang yang bisa membaur kepada semua ofisial tim. Dan, cara ini pasti tidak afektif. Makanya, sampai hari ini perjalanan Danur selalu ‘jeblok’.

Namun, seminggu berikutnya Saleh Mukadar sepertinya ndableg, dengan bangga menulis di statusnya di jejaring sosial Facebook, yang intinya, walaupun banyak orang menentang terpilihnya Danurwindo memoles Persebaya Surabaya, saya putuskan justru memilih Danurwindo. Demikian kira-kira status Saleh Mukadar. Dan, setelah itu Saleh Mukadar juga tidak lagi menghubungi saya.

Saya mencoba menganalis, bahwa dalam mengelola sebuah lembaga yang berorientasi bisnis, seharusnya Saleh Mukadar berpikir kompromi. Memang, saran saya belum tentu benar, jika Persebaya Surabaya tanpa Danurwindo bisa juara. Namun, harusnya Saleh Mukadar juga berpikir bisnis, karena saran saya waktu itu, kalau tidak memilih Danurwindo, saya juga kasih solusi yaitu mengontrak Daniel Roekito (sosoknya bertanga dingin, sering membawa tim biasa-biasa jadi trengginas dan juga bisa juara). Dan, kalau saat itu Saleh Mukadar mau memilih Daniel Roekito, maka manajemen Flexi akan mengucurkan dana Rp 2 miliar sebagai sponsorship awal (meningkat jika punya prestasi).

Kembali, ke masalah Arema Malang, kalau Persebaya Surabaya yang belum teruji dalam kancah ISL sudah ditaksir oleh pihak sponsorship sebesar Rp 2 miliar, harusnya Arema Malang memiliki nilai lebih dibandingkan Persebaya, karena memiliki prestasi yang lebih bagus dekade ini dibandingkan Persebaya (walaupun pernah juara Divisi Utama). Namun, Persebaya baru saja naik pangkat dari anggota Divisi Utama promosi ke ISL. Hitunglah, nilai Arema Malang Rp 3 miliar setiap tahun dari sponsor di luar goodwill PT Bentoel.

Ada pemasukan yang sampai hari masih ‘dicurangi’ oleh Badan liga Indonesia, yang seharusnya menjadi milik klub yang jumlahnya sebetulnya lumayan jika dijumlah. Yaitu, mendapatkan dari televisi. Sebagai pemilik tunggal hak siar, ANTV sepertinya dipaksa oleh BLI – PSSI, dengan memberi nilai dari siaran langsung ke setiap klub yang sangat ‘miskin’, yaitu hanya sebesar Rp 40 sampai 60 juta setiap pertandingan untuk tuan rumah. Ini jelas-jelas sangat ‘curang’. Seharusnya, ANTV memberi kontrak kepada tuan rumah minimal Rp 100 juta untuk tim-tim biasa, dan Rp 200 juta untuk tim favorit (semuanya bisa diklasifikasikan sebagai tim favorit dan tim biasa).

Dalam kepengurusan PSSI dan BLI yang baru nanti (kalau SBY bisa menggusur Nurdin Halid dkk) aturan-aturan seperti ini harus dijalankan, agar setiap tim bisa meraup sebanyak mungkin income dari berbagai sumber sebagai haknya. Termasuk dari televisi. Ambil contoh, saat Iwan fals launching album terbarunya, ‘Keseimbangan’, yang siaran langsungnya dibeli pihak TvOne, maka pihak TvOne membeli acara tersebut dari manajemen Iwan Fals sebesar Rp 300 juta. Saya pikir, ANTV harus mencontoh sistem bisnis seperti itu, kalau mau menyiarkan siaran langsung Arema Malang versus tim favorit (dinilai sebagai big match) nilainya Rp 300 juta, jika menghadapi tim seperti Persitara Jakarta Utara nilai Rp 200 juta. Berarti satu musim, jika aturan ini diberlakukan, maka Arema malang dalam satu musim rata-rata mendapat pemasukan dari televisi sebesar Rp 3,4 miliar (jika rata-rata Rp 200 juta dikalikan 17 pertandingan).

Jadi, total pendapatan tim seperti Arema Malang, yang memiliki infrastruktur stadion yang dikelola sendiri dalam satu musim, sebesar Rp 21 miliar (penonton), merchandising Rp 5 miliar, goodwill PT Bentoel Rp 7 miliar, sponsorship Rp 3 miliar, hak siar televisi Rp 3,4 miliar, jumlahnya sekitar Rp 38,5 miliar.

Mari kita hitung bareng-bareng, pengeluaran satu musim dari manajemen Arema Malang secara kasat mata saja. Untuk keperluan kontrak pemain sekitar Rp 15 miliar (sudah mendapatkan kualitas pemain yang mumpuni dan berkualitas). Transportasi Rp 2 miliar. Mess pemain dan makanan bergizi pemain Rp 3 miliar, panitia pertandingan Rp 4 miliar. Ujicoba dan persiapan tim menjelang kompetisi Rp 1 miliar. Maka, totalnya Rp 25 miliar sebagai modal investasi. Dan, menghasilkan Rp 38,5 miliar (kira-kira jika dihitung punya pinjaman ke bank sebesar Rp 25 miliar, pihak bank akan memberi pinjaman, mengingat punya perhitungan bisnis dengan keuntungan yang nyaris 30% dari nilai pinjaman per tahun).

Tim sebesar Arema Malang, masih punya pemasukan tambahan, jika mampu membangun kompetisi lokal amatir untuk pembinaan di usia dini, dari U-15, U-17, U-19 dan U-21 untuk mencetak pemain berbakat di sekitar kota Malang dan sekitarnya. Arema saatnya membangun investasi jangka panjang dengan memutar roda kompetisi pembinaan tersebut yang kira-kira nilainya tidak lebih dari Rp 1 miliar. Namun, bisa menghasilkan talenta-talenta berbakat dengan nilai jual tinggi. Konsep ini, sebetulnya mengurangi anggaran pembelian pemain lokal atau asing, tapi memaksimalkan pemain binaan sendiri.

Jika Arema Malang memiliki prestasi, misalkan juara Indonesia Super League atau pun juga juara Piala Indonesia, maka juga akan meraih hadiah yang sekitar Rp 2 sampai 3 miliar (dalam kepengurusan PSSI yang baru nanti, saatnya hadiahnya bisa mencapai Rp 10 sampai 20 miliar, agar semua tim semakin serius mengelola tim dengan investasi yang benar).

Dan, otomatis, jika Arema bisa juara, dipastikan mewakili Indonesia di laga AFC Champions League. Dengan wakil dari Indonesia saja, AFC sudah memberi hadiah sebagai peserta sebesar Rp 2 miliar (sebagai subsidi) untuk penyelenggara dan juga transportasi away. Dengan menggelar tiga (3) kali pertandingan kandang dari peserta AFC Champions League saja, Arema Malang, diperkirakan masih mengantongi Rp 7,5 miliar dari tiga (3) partai home. Jika, masa depannya tim-tim Indonesia mampu mencapai prestasi puncak di level kompetisi Asia, hadiahnya gila-gilaan, juara AFC Championship bisa mencapai Rp 100 miliar, mencapai semifinal sudah dapat Rp 25 miliar. Menggiurkan bukan?

Perhitungan sistem bisnis sepak bola ini, bukan hanya ‘macan kertas’, semuanya dimulai dari tekad dan kepedulian pemerintah (jika SBY benar-benar serius ikut memikirkan sepak bola), bukan hanya memikirkan pencintraan SBY. Maka, tinggal ketok palu, ikuti saran saya, dan benahi semua elemen-elemen yang ada dalam pembinaan dan kompetisi, maka cukup membutuhkan waktu 8 tahun, semua klub yang ikut kompetisi tidak lagi pontang-panting mengelola tim, dan otomatis prestasi itu nongol dengan sendirinya.



Erwiyantoro
Pencinta Sepak Bola Indonesia

Selasa, 18 Januari 2011

Wadah Suporter Aceh – Siapa yang berani memulai dan mengambil inisitif merorganisir SUPORTER ACEH

Kita bangga menjadi supporter TIMNAS sa’at berlaga di event international, kita bangga menjadi supporter team sepakbola ACEH sa’at berlaga di ajang nasional (PON) dan kita juga bangga menjadi supporter PERSIRAJA sa’at berlaga di kompetisi divisi utama (liga Tiphone). Kebanggan itu sesungguhnya adalah luapan rasa rindu terhadap mutu dan prestasi sepakbola secara keseluruhan.
Mengapa kita tidak bersatu membentuk “WADAH SUPORTER ACEH” yang akan mendukung baik itu TIM SEPAKBOLA ACEH, maupun KLUB yang berdomisili di ACEH, karena sebenarnya tujuan kita semua adalah mutu dan prestasi sepakbola di Aceh, dan juga yang tidak boleh di abaikan adalah mari kita membantu Klub Sepakbola di Aceh yang berkompetisi di liga Profesioanal terlepas dari ketergantungan sumber dana yang berasal dari Pemerintah (Daerah).
Untuk sekarang ini ACEH UNITED adalah Klub Sepakbola pertama di Aceh yang mengikrarkan diri sebagai Klub professional dengan tidak menggantungkan diri pada sumber dana yang berasal dari Pemerintah Daerah. Untuk kedepan secara bertahap kita para supporter membantu beberapa Klub Sepakbola yang berdomisili di Aceh seperti PERSIRAJA, PSAP Sigli, PSSB Bireuen, PSLS Lhokseumawe melepaskan diri dari ketergantungan sumber dana kepada anggaran Pemerintah Daerah.
Pertimbangan yang biasanya di jadikan ukuran layak atau tidaknya sebuah Klub sepakbola mendapat sponsor adalah seberapa banyak orang yang menyaksikan ketika Klub tesebut berlaga baik langsung di stadion maupun melalui televisi. Usaha yang biasa dilakukan Klub untuk mendatangkan para penonton adalah dengan merekrut pemain bintang untuk bergabung dengan harapan mampu menyajikan permainan yang bermutu dan enak ditonton.
Sebagai supporter hal utama yang kita inginkan adalah menyaksikan kemenangan Klub yang kita dukung, menyaksikan pertandingan yang bermutu, menyaksikan pemain bintang memamerkan keahliannya dalam bermain sepakbola, atau bahkan hanya ingin menyaksikan pemain-pemain lokal yang bisa saja dia adalah, abang, adik, tetanga, teman sekampung atau hubungan emosional lainnya yang terlibat dalam Klub yang kita dukung. Suatu sa’at bisa saja pemain-pemain lokal tersebut akan menjadi pemain bintang, tidak sebatas di klub lokal, tetapi di arena yang lebih besar dan bergengsi.
Mari kita mulai dari sekarang, bersatulah kita para Suporter Aceh, bentuk wadah yang terorganisir bekerjasama dengan KLUB SEPAKBOLA yang berdomisili di Aceh, dan kita akan memenuhi stadion untuk mendukung pertandingan KANDANG Klub Yang berdomisili di Aceh, dan sudah di sa’atnya kita membentuk POSKO (SEKRETARIAT) Suporter ACEH untuk mengisi 20 % dari kapasitas stadion di setiap Kota yang menjadi tempat pertandingan TANDANG.
KITA ADALAH ACEH UNITED dengan julukan “………”
KITA ADALAH PERSIRAJA dengan julukan “SKULL”
KITA ADALAH PSAP SIGLI dengan julukan “…………”
KITA ADALAH PSSB BIREUEN dengan julukan “…………..”
KITA ADALAH PSLS LHOKSEUMAWE dengan Julukan “…………..”
Dan KITA ADALAH SUPORTER SEPAKBOLA ACEH

Wadah Suporter Aceh – Mari bersatu untuk mewujudkan mimpi membangun sepakbola yang bermutu di Aceh

Pengembangan kualitas sepakbola secara keseluruhan bukan hanya menjadi tanggungjawab klub beserta para pengurusnya. Para penggemar (supporter) juga memegang peranan yang sangat penting. Kita semua setuju bahwa untuk mewujudkan sepakbola yang bermutu membutuhkan proses pembinaan yang tidak singkat dan tentu saja memerlukan biaya yang sangat besar, lalu dari mana dana itu bisa terkumpul ?

Di era sekarang sepakbola sudah menjelma menjadi sebuah industri, sudah bukan masanya lagi untuk menjalankan roda kehidupan sebuah klub sepakbola menggantungkan diri dari Anggaran Pemerintah. Sudah sepantasnya anggaran tsb bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfa’at seperti untuk pembangunan fasilitas olahraga (stadion) yang baik, pembinaan usia dini, beasiswa atlet berprestasi, dll.

Khusus dalam sepakbola, peluang klub untuk mandiri tanpa harus menggantungkan diri dari sumber dana yang berasal dari Pemerintah sangatlah terbuka lebar, karena sepakbola sudah menjadi tontonan massal yang tidak memandang usia dan jenis kelamin, dan kita sebagai pencinta sepakbola (supporter) memegang peranan yang penting.

Apa yang harus kita lakukan sebagai supporter ?

  1. Bertindak tertib sa’at menjadi penyemangat (suporter) klub kesayangan berlaga, KALAH, MENANG atau SERI (Draw) adalah takdir dari sebuah pertandingan olah raga dan kita harus berlapang dada menerimanya.
  2. Berilah apresiasi atas penampilan yang di tunjukkan oleh para pemain di lapangan walaupun kalah dalam berlaga, karena mereka juga sesungguhnya tidak menginginkan kekalahan tsb.
  3. Banggalah untuk membeli tiket masuk untuk menonton langsung di stadion.
  4. Banggalah mengenakan segala atribut supporter sesuai dengan klub kesayangan anda karena itu akan menjadi energy positif bagi mereka yang berlaga di lapangan.
  5. ...................

Mengapa supporter itu penting ?

Banyaknya jumlah supporter akan menjadi energi tambahan yang positif bagi para pemain yang berlaga dilapangan, suporter juga bisa mendatangkan pendapatan secara langsung ataupun tidak langsung ke klub kesayangannya melalui :

  1. Tiket masuk ke stadion.
  2. Merchandise (atribut) yang digunakan para pencinta (penggemar).
  3. Daya tarik untuk para sponsor untuk mengiklankan produknya di pinggir lapangan dan pada seragam klub yang dikenakan pemain.
  4. Hak siar televisi untuk tayangan langsung pertandingan yang dilakoni oleh klub.
  5. .......

Minggu, 16 Januari 2011

BERMIMPI MEMBANGUN INDUSTRI SEPAKBOLA DI ACEH - 4

LIGA PRIMER INDONSIA - Peserta Liga Primer Indonesia dan ACEH UNITED

ACEH UNITED dengan sepakbola Produk Utama nya dan LIGA PRIMER INDONESIA selaku induk bisnis telah memberikan peluang untuk terciptanya produk (usaha) sampingan dari industri sepakbola. Ikatan yang sangat erat tidak hanya secara emosional dan kecintaan fanatik kepada klub, namun juga ikatan bisnis dengan kalkulasi untung rugi.

Tidak ada biaya yang harus di keluarkan oleh managemen klub ACEH UNITED, namun potensi finansial untuk mendukung operasional klub dari bisnis sampingan dengan mengindustrikan sepakbola sangat besar, yang diperlukan hanya aturan main yang saling menguntungkan dengan pihak-pihak yang terlibat.

KUALITAS PRODUK, Pertandingan sepak bola dengan skill yang tinggi disertai sportifitas olahraga.

Brand IMAGE :

  1. Logo (Jersey) ACEH UNITED yang masih terkesan asal jadi, perlu di benahi dan di ciptakan logo (jersey) Aceh United yang lebih baik.
  2. Menciptakan yel-yel (teriakan pemberi semangat) berupa nyanyian pendek untuk pendukung yang hadir di stadion.
  3. Menciptakan MASKOT Aceh United.
  4. ...
Basis Suporter :
  1. Membangun basis suporter pertandingan kandang sebanyak 80 % dari kapasitas stadion.
  2. Membangun basis supporter pertandingan tandang sebanyak 20 % dari kapasitas stadion.
  3. Bekerja sama dengan para pelaku bisnis yang menyajikan nonton bareng.
  4. ...

Membangun usaha kecil diutamakan bekerjasama dengan penggemar :

  1. Penjualan (distribusi) tiket pertandingan kandang
  2. Penjualan (distribusi) tiket pertandingan tandang.
  3. Merchandise ACEH UNITED (Kaos, bendera, topi, syal (selendang), dll).
  4. ...
Membangun Basis Suporter dan bisnis online :
  1. Website Aceh United.
  2. Fans Page di website dan situs jejaring sosial.
  3. Toko online untuk distribusi dan penjualan merchandise
  4. ....

Catatan akhir :

Managemen klub, penggemar dan pelaku bisnis lainnya tentu saja telah memikirkan dan bahkan ada yang telah memulainya. Masih banyak yang bisa di kembangkan dalam sebuah industri sepakbola, dan kita harus memulai secara benar sejak dini.

KRITIK untuk ACEH UNITED

Sebagai seorang penggemar sepakbola yang memilki ikatan emosional yang erat dengan Aceh, dan menaruh harapan yang besar kepada ACEH UNITED, sebagai pribadi yang tidak mewakili siapapun saya melihat masih banyak hal yang harus di benahi oleh managemen klub. Kritik ini tidak berkenaan dengan bagaimana membangun kualitas sepakbola karena saya tidak memiliki keahlian untuk itu, kritik ini hanya mengambil porsi tentang "Publikasi" dari ACEH UNITED.

Dalam sebuah industri ACEH UNITED adalah sebuah PRODUK, sebagus apapun sebuah produk jika tidak di kemas dengan baik dan di perkenalkan kepada konsumen tidak akan pernah bisa di jual. Tentu saja dengan tidak mengabaikan apa yang telah dilakukan managemen klub selama ini dalam mengemas dan mengenalkan ACEH UNITED, kita telah melihat terbentuknya fan pages resmi yang dikelola oleh managemen klub, dan menyusul fan pages yang tidak resmi yang dibangun oleh para penggemar ACEH UNITED yang tentu saja juga memiliki harapan yang besar kepada Aceh United di masa depan.

Apa yang saya baca dari tulisan dan komentar di banyak fans pages, ACEH UNITED terkesan masih kurang membuka diri, informasi tentang klub masih sangat sulit didapat. Sebagai penggemar ada beberapa yang sangat mendesak yang harus segera di perbaiki untuk menampung (mengakomodir) rasa ingin tahu dari banyak penggemar.

PR (public relation) belum menjalankan fungsinya dengan baik. Jika PR di fungsikan dengan baik dan di jalankan oleh orang yang mengerti betul industri sepakbola, maka memanage penggemar tidak di butuhkan biaya yang besar, sementara potensi pendapatan klub sangat tergantung dari para penggemar. Karena Sponsor akan menilai layak atau tidaknya sebuah klub sebagai media iklan dari produk perusahaan sponsor adalah jumlah penonton yang yang selalu hadir di stadion, dan minat (rating) penonton yang menonton di TV. Bagi penggemar ACEH UNITED adalah Produk dan bagi perusahaan sponsor ACEH UNITED adalah media iklan.


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger