Inilah naskah lengkap bagian pertama dari wawancara GOAL.com dengan presiden Barcelona...
Gianluigi Longinotti-Buitoni, Pendiri & Presiden GOAL.com: Kami berada di Camp Nou, markas salah satu klub terbesar dalam sejarah sepakbola: FC Barcelona. Karakter Barcelona paling mengesankan adalah bukan hanya klub ini meraih sukses terbesar dalam sejarah, setelah menjuarai enam gelar dalam musim yang sama dengan penampilan individual serta kolektif mereka. Tetapi apa yang paling menandai Barcelona adalah cara mereka meraihnya. Pertama-tama, sukses olahraga Barcelona berangkat dari pengembangan mental juara dari program akar rumput sendiri, seperti Lionel Messi, Xavi Hernandez, Andres Iniesta…
Kedua, ketika kebanyakan klub sedang mengalami kesulitan finansial, Barcelona menjadi klub terbesar kedua dalam pendapatan tahunan – yakni sebesar €365,9 juta berdasarkan penjualan dalam lima tahun terakhir, sukses yang sejalan dengan klub-klub top lain di dunia.
Gianluigi Longinotti-Buitoni [GLB]: Tuan Presiden, di bawah kepemimpinan Anda Barcelona meraih sukses terus menerus. Menurut Anda, apakah keputusan terbaik yang Anda buat?
Joan Laporta [JL]: Keputusan terbaik kami, karena kami berada dalam dewan administrasi yang berada di bawah kewenangan saya, dan kami mengambil keputusan secara kolektif kapanpun sebuah kebijakan sepakbola harus ditempuh, adalah disokong oleh sekretaris teknik dan orang-orang yang memberikan nasihat positif. Tapi keputusan terbaik yang kami buat sepanjang tahun ini menurut saya adalah menunjuk Txiki Begiristain sebagai sekretaris teknik. Dia orang yang secara konsisten menyajikan proposal yang sangat kompetitif. Keputusan hebat juga adalah menunjuk Frank Rijkaard sebagai pelatih, begitu juga dengan penunjukan Josep Guardiola, Keputusan ini adalah keputusan luar biasa, juga pelik karena tidak didukung orang banyak atau juga memiliki kerumitan prosedur sebuah penunjukan. Namun, kami berhasil membuktikan keberanian serta gagasan jernih untuk hal yang kami inginkan. Selain itu, keputusan terbaik olahraga kami adalah mengembangkan filosofi sepakbola "Cruyffian", yang mengubah Barcelona menjadi klub dengan keistimewaan, klub yang memilih menjadi yang terbaik ketimbang yang pertama. Biasanya, jika Anda yang terbaik, Anda sekaligus menjadi yang pertama. Tapi, inilah cara kami mencintai sepakbola dan filosofi ini menjadi keputusan terbesar. Saat membahas penerapan filosofi ini, sebagai konsekuensinya, datanglah Txiki, datanglah Rijkaard, datanglah Guardiola... Kuncinya adalah filosofi sepakbola yang kami pilih untuk diterapkan, filosofi "Cruyffian".
Dari sudut pandang non-sepakbola, keputusan terbaik adalah membangun Yayasan Barca dan membentuk persekutuan dengan UNICEF. Ini adalah keputusan non-olahraga yang paling penting dalam tujuh tahun kepemimpinan saya, yang akan berakhir 30 Juni nanti. Buat saya, keputusan terbaik adalah dua hal: setia kepada gagasan pemahaman kami tentang sepakbola, yaitu filosofi "Cruyffian"; serta keputusan menjalin hubungan dengan UNICEF, yang membuat kami memiliki kesempatan untuk membantu banyak anak yang membutuhkan. Keputusan ini dijalankan sesuai dengan citra serta nilai-nilai Barca dan ini menurut saya sangat penting.
GLB: Lalu, apakah keputusan terburuk?
JL: Secara umum, saya lebih senang membahas hal-bal baik. Saya akui saja, kami melakukan keputusan buruk. Apa yang saya nilai adalah keinginan kami membenahi kesalahan dan menatap ke depan. Saat ini, saya mencoba memikirkan keputusan terburuk dan saya tak bisa mengingatnya! Tahu apa yang terjadi? Tentu saja kita membuat kesalahan dan saya yang pertama melakukannya, tapi saya mencoba melupakannya. Saya rasa kami harus belajar dari kesalahan itu, tapi jangan mengingatnya. Anda harus belajar dari kesalahan itu, mengoreksinya, dan menatap ke depan. Keputusan yang salah? Saya rasa secara umum setiap langkah yang kami lakukan memiliki arti dan dengan pikiran yang tenang, saya tahu segala keputusan kami jalankan dengan niat positif. Keputusan yang tidak berjalan lancar bisa digunakan sebagai bahan pelajaran, jadi saya rasa itu tidak bisa dinilai dengan buruk.
GLB: Saya ingin membagi pertanyaan jadi tiga bagian: olahraga, bisnis, dan sosial. Untuk bidang olahraga, apa tiga hal menurut Anda yang membantu klub meraih sukses sebesar ini?
JL: Saya sudah menjawabnya. Pertama, setia kepada gagasan kami tentang sepakbola, yakni filosofi "Cruyffian", merupakan cara mendominasi pertandingan sejak awal, mengendalikan bola, memainkan umpan-umpan pendek, menyerang, mencoba mencetak lebih banyak gol daripada lawan, serta penuh rendah hati. Cara ini menuntut pemain tampil baik dan menjadi yang terbaik. Saya rasa inilah yang paling penting, ini kuncinya. Contohnya, beberapa keputusan sudah ditempuh, seperti membentuk La Masia. La Masia adalah istilah yang kami gunakan dalam menjalankan program akar rumput Barca. Kami juga banyak berinvestasi di sana, kami bekerja keras, kami mengerahkan tenaga, dan juga kecerdasan, kemampuan, dan teknik… Konsekuensinya sekarang, di tim inti, kami memiliki 50 persen pemain dari didikan sendiri, yang tumbuh dan dikembangkan sebagai pemain dan dibentuk sebagai seorang pria yang paham perannya dalam klub, simbol yang diwakilinya, dan kebanggaan menjadi bagian dari Barca.
Hal ini diterjemahkan ke dalam tim inti dan sekarang membuat kami memiliki identitas sepakbola sendiri, hanya yang berdasarkan "Cruyffisme", yang juga dikembangkan Frank Rijkaard saat masih melatih, dan juga saat ini masih dikembangkan oleh Pep Guardiola. Keduanya sudah paham filosofi tersebut. Terutama Pep, karena dia tahu seluk beluk klub ini, pengetahuan soal La Masia, dan bagaimana rasanya menjadi bagian dari Barca. Kemudian pemain seperti Messi, Iniesta, Xavi, Puyol, Pique, Busquets, begitu juga dengan Bojan, Pedro, Victor Valdes… Mereka semua memiliki darah Barca yang mengalir di dalam pembuluh nadi masing-masing, mereka mencintai klub sepenuh hati, mereka banyak menderita, mereka banyak berlatih di Barca untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Ini sungguh indah dan inilah kuncinya.
Menjadi lebih dari sekadar klub juga penting, "mes que un club" atau lebih dari sekadar klub bukan sekadar slogan, melainkan ekspresi identitas kami, ekspresi identitas budaya kami, budaya Katalan kami, ekspresi fokus internasional kami bahwa Barca adalah klub global. Ekspresi ini merupakan bentuk solidaritas yang dikembangkan melalui Yayasan. Jadi menjadi lebih dari sekadar klub, filosofi "Cruyffian", dan La Masia adalah kunci sukses kami.
Hal ini diterjemahkan ke dalam tim inti dan sekarang membuat kami memiliki identitas sepakbola sendiri, hanya yang berdasarkan "Cruyffisme", yang juga dikembangkan Frank Rijkaard saat masih melatih, dan juga saat ini masih dikembangkan oleh Pep Guardiola. Keduanya sudah paham filosofi tersebut. Terutama Pep, karena dia tahu seluk beluk klub ini, pengetahuan soal La Masia, dan bagaimana rasanya menjadi bagian dari Barca. Kemudian pemain seperti Messi, Iniesta, Xavi, Puyol, Pique, Busquets, begitu juga dengan Bojan, Pedro, Victor Valdes… Mereka semua memiliki darah Barca yang mengalir di dalam pembuluh nadi masing-masing, mereka mencintai klub sepenuh hati, mereka banyak menderita, mereka banyak berlatih di Barca untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Ini sungguh indah dan inilah kuncinya.
Menjadi lebih dari sekadar klub juga penting, "mes que un club" atau lebih dari sekadar klub bukan sekadar slogan, melainkan ekspresi identitas kami, ekspresi identitas budaya kami, budaya Katalan kami, ekspresi fokus internasional kami bahwa Barca adalah klub global. Ekspresi ini merupakan bentuk solidaritas yang dikembangkan melalui Yayasan. Jadi menjadi lebih dari sekadar klub, filosofi "Cruyffian", dan La Masia adalah kunci sukses kami.


08.50
Vathria
0 komentar:
Posting Komentar